FILSAFAT SEJATI BERASAL DARI YESUS
KRISTUS
Abstraksi
Filsafat
sebagai ilmu yang mempersoalkan realitas telah membuka gerbang menuju jalan
kebenaran yang sejati. Yustinus Martir merasa bahwa filsafat telah membantunya
untuk memahami misteri Allah dalam diri Yesus sebagai rencana Ilahi dalam
sejarah kehidupan manusia. Perjalanan filsafatnya ini memberikan kesaksian bagi
kita atas usahanya untuk menginspirasi setiap manusia untuk mengenal Allah
secara lebih mendalam.
I. PENGANTAR
Zaman
Filsafat Patristik dan Abad Pertengahan adalah zaman yang diisi penuh oleh
kehidupan berbagai macam filsuf dan berbagai pemikiran mereka. Terkhusus dalam
Filsafat Patristik nampaknya adalah langkah
awal untuk menuju ke masa Filsafat Abad Pertengahan yang biasa disebut juga
sebagai masa skolastik[1].
Filsafat Patristik lahir dari Bapa-Bapa Gereja yang mulai berjuang untuk
mempertahankan iman Kristiani. Pada masa itu orang-orang Kristen pada awalnya
dan pada umumnya bukanlah orang-orang terpelajar. Orang-orang Kristen juga
mengalami penganiayaan oleh sebab “dewa” baru yang disebut Yesus Kristus.
Bapa-Bapa Gereja mulai memikirkan
landasan iman akan Yesus Kristus sebagai pegangan umat Kristiani dan pembelaan
iman atas sekelompok orang yang mencoba menggoyahkan pemahaman iman mereka.
Pemikiran Bapa – Bapa Gereja ini juga dipengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh
filsafat purba seperti Aristoteles dan Plato. Ada Bapa – Bapa Gereja yang juga
menolak filsafat Yunani sebab Filsafat sebagai kecerdikan manusiawi belaka
merupakan suatu yang berkelebihan saja, bahkan suatu bahaya yang mengancam
kemurnian iman Kristiani[2].
Bapa Gereja pertama yang digelari sebagai filsuf Kristen pertama adalah
Yustinus Martir. Filsuf pertama ini mengutarakan pembelaan-pembelaan iman
kepada orang sezamannya yang menyembah dewa-dewi. Akibat dari penyangkalan
habis-habisannya ini. Yustinus dipenggal kepalanya dan sebutan martir memang
pantas baginya sebab karya-karyanya yang pertama mewujudkan kegigihannya
membela iman Kristiani.
II. YUSTINUS SEORANG APOLOGET[3]
Yustinus Martir adalah
seorang filsuf Kristen dan seorang apologet. Yustinus lahir kurang lebih tahun
100, dekat dengan Sikhem kuno di Samaria di Tanah Suci. Ayahnya bernama
Priscus; dengan berbagai guru di Efesus dia belajar filsafat: Stoa,
Peripatetik, Pythagoras dan akhirnya menganut platonic. Untuk sementara waktu
ia mengajar filsafat Kristen di Efesus tapi segera pergi setelah tahun 135 M. Selanjutnya dia muncul dan mengajar di
rumahnya di Roma. Pada zaman Byzantine banyak karya beredar dalam namanya.[4]
Yustinus Martir menggunakan seluruh
hidupnya untuk mencari suatu kebenaran. Sebagai seorang filsuf ia terus tak
henti menggali makna filsafat yang sejati. Yustinus Martir mempunyai salah satu
kisah yang sangat terkenal. Kisah ini diceritakannya dalam karyanya dalam
bab-bab pertama Dialog dengan Trypho,[5] Seorang
tokoh misterius, seorang kakek yang dijumpainya di pantai laut. Kakek itu
membuatnya berkecil hati dengan menunjukkan keadaanya bahwa tidak mungkin
seorang manusia memuaskan hasratanya akan hal Ilahi jika mengandalkan kekuatan
sendiri. Kakek itu menunjukkan kepadanya bahwa nabi-nabi zaman dulu harus
didatangi untuk menemukan gagasan kepada Allah serta “filsafat yang sejati.”
Kakek itu mengajarkannya supaya berdoa agar gerbang cahaya dibukakan baginya.
Cerita inilah yang menentukan perjalanan kehidupan Yustinus Martir
III. BUAH PEMIKIRAN YANG MENUJU
PENCERAHAN
Yustinus dalam karya-karyanya
berusaha menerangkan rencana Ilahi, penciptaan dan penyelamatan yang
dilaksanakan dalam Yesus Kristus.[6]
Justinus memiliki dua cara untuk menjelaskan bagaimana filsafat itu telah
menemukan kebenaran. Pertama, mereka telah mempelajari Perjanjian Lama yang
mana mereka pelajari, misalnya hukuman akan datang. Bahwa dalam suratnya Plato
menunjukkan bahwa Plato telah belajar dari Musa dalam misteri Trinitas. Jadi Yustinus
lebih dulu membuktikan tentang Trinitas Kristiani dibandingkan dengan spekulasi
Platonic, karena firman Ilahi yang jelas dan karena alegori dapat ditembus
hanya melalui inspirasi penulis suci. Kedua, Filsafat juga menemukan kebenaran
yang terlepas dari wahyu alkitab. Kristus yang ilahi, Logos,[7]
adalah alasan universal, di mana semua makhluk rasional berpartisipasi,
sehingga benih-benih kebenaran ditemukan dalam semua orang yang dikaruniai akal.
Yustinus
Martir mempunyai suatu ungkapan yang mencoba menjelaskan hadirnya filsafat
Yunani sebagai persiapan injil, ungkapan itu adalah; “Socrates seperti Abraham,
adalah seorang Kristen sebelum Kristus.”[8]
Ungkapan ini mengungkapkan bahwa kehadiran Socrates yang sungguh-sungguh filsuf
itu membuka gerbang hidup baru menuju filsafat sejati yang berasal dari Yesus. Ia
adalah penulis yang khas dalam menyampaikan pembelaanya. Telah jelas bahwa
melalui penjelasan dalam salah satu karyanya tentang cara filsafat menemukan
kebenaran, merupakan kekhasan Yustinus pada konsepnya tentang rencana Ilahi
dalam sejarah yang menyatukan perjanjian lama dan aspirasi tertinggi dari
Yunani yang adalah jalur besar dalam
Kekristenan.
Dalam Apologia pertama Yustinus
Martir dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian. Pertama, i-iii, berisi tentang pendahuluan kepada kaisar: tentang Justinus
untuk menerangi dan membebaskan diri dari tanggung jawab tentang paham yang sekarang
mereka miliki. Kedua, iv-xii, bagian pertama atau pengenalan yang berisi
tentang cintanya kepada Allah dengan membiarkan diri dibunuh daripada
menyangkal Allah yang diimaninya. Ketiga, xiii-lxvii, tentang penjelasan dan
pengenalan Kristen. Dalam bagian ini ditampakkan keunggulan-keunggulan Kristus
dalam Kristen. Salah satu yang menarik dari bagian ketiga ini adalah, bab
xxiii- Argumen. Pada Bab ini dijelaskan tentang pengajaran Kritus yang
sungguh-sunguh benar dan oleh para Nabi yang mendahului-Nya benar dan kebenaran
ini lebih tua dari semua penulis yang ada. Secara gamblang dijelaskan pula
bahwa Yesus Kristus adalah anak satu-satunya yang telah diperanakkan oleh
Allah, karena Kuasa-Nya Firman dan pertama dan tunggal menjadi manusia sesuai
dengan kehendak-Nya.
IV. PENUTUP
Yustinus
Martir mengkritik dengan tak kenal ampun, agama kafir serta mitos-mitosnya,
yang dia pandang sebagai kesesatan dari jalan kebenaran. Lahirnya filsafat
justru semakin menguntungkan, dimana kekafiran Yudaisme dan Kristianitas dapat
bertemu, khususnya dalam mengkritik agama kafir serta mitos – mitosnya. Dalam
kenyataannya telah jelas bahwa agama kafir tidak mengikuti jalan Logos, tetapi
berpegang pada mitos-mitos, meskipun filsafat Yunani mengakui bahwa mitologi
sunguh sama sekali tidak sesuai dengan kebenaran. Akibat logis dari kemunduran
agama kafir adalah akibat dari pemisahan antara kebenaran yang nyata dan agama,
yang merupakan kumpulan ibadat dan upacara buatan sendiri.
Pada
zaman sekarang ini, pada hati manusia masih tertambat kerinduan untuk menyelami
dan mencintai Allah secara lebih mendalam. Banyak studi bersama, kuliah umum
dan seminar-seminar yang diadakan oleh
pihak tertentu untuk semakin menyelami Allah. Namun hasilnya, hanyalah suatu
lembar kesimpulan yang hanya tertera pada lembaran-lembaran kertas. Ini adalah
tugas kita bersama untuk semakin dapat mengenal Allah dan sesudahnya menghidupi
pribadi Allah dalam kisah hidup kita. Yustinus Martir menyimpulkan dengan
kata-kata yang indah bahwa keseluruhan dalam sejarah, dapat disimpulkan bahwa
segala sesuatu yang benar yang pernah dikatakan oleh siapa pun juga adalah
milik kita, orang-orang Kristen.[9]
Jalan yang termudah dan terbaik bagi kita telah diingatkan oleh seorang kakek
tua dalam perjumpaannya dengan Yustinus, yaitu berdoalah agar gerbang cahaya
dibukakan bagimu; sebab hal-hal ini tak dapat ditangkap atau dimengerti seorang
pun, selain mereka yang telah diberi anugerah khusus oleh Allah.[10]
DAFTAR
PUSTAKA
Bagus,
Lorens. Kamus Filsafat, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Bertens,
K. Ringkasan
Sejarah Filsafat, Jakarta: Kanisius, 1976.
Heraty,
Jack. New Catholic Encyclopedia. Washington, D.C: The Catholic Of
University of Amerika, 1981.
Paus Benediktus
XVI. Bapa – Bapa Gereja (judul asli: The Fathers, 2009),
diterjemahkan oleh Waskito. Malang: Dioma, 2010.
Roberts,
Alexander – James Donaldson (ed.). The
Apostolic Father with Justin Martyr and Ireneaus. United States of America:
Eerdmems Printing Company, 1981.
[1] Inggris: scholasticism; dari bahasa latin scholasticus, dari Yunani scholastikos
yang berarti guru; dari scholaszein
(waktu senggang). Kata ini sendiri diperoleh dari bahasa latin schola (sekolah, guru). Skolatisisme
diarahkan kepada universitas, dan memang mendorong lahirnya universitas. Ada
yang mematoki permulaan periode skolastik pada abad ke-7 dan memang sampai abad
ke 15 semua sepakat bahwa puncak kejayaannya pada abad ke 12 dan ke 13. [Lihat Lorens
Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm. 1028.]
[2] K, Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Jakarta: Kanisius, 1976), hlm. 18.
[3]
Istilah “apologet” dipakai
untuk pengarang-pengarang kuno yang berusaha membela agama baru terhadap
tuduhan-tuduhan berat. Para Apologet mengutamakan dua hal, hal yang penting
tepat dinamakan “apologetic”, yaitu membela Kristianitas yang masih baru (apologia dalam bahasa Yunani berarti
“pembelaan”) . [Lihat Paus Benediktus XVI, Bapa – Bapa Gereja (judul
asli: The Fathers), diterjemahkan oleh Waskito (Malang: Dioma, 2010), hlm. 27.]
[4] Jack Heraty, New Catholic Encyclopedia, (Washington,
D.C: The Catholic Of University of Amerika, 1981), hlm. 94.
[5] Trypho adalah orang Ibrani
sunat. Dia memilih untuk melarikan diri sewaktu perang di daerahnya. Dia banyak
menghabiskan waktu di Yunani dan terutama di Korintus. [Lihat Alexander Roberts
– James Donaldson (ed.), The Apostolic
Father with Justin Martyr and Ireneaus, (United States of America: Eerdmems
Printing Company, 1981), hlm. 195.]
[6] Paus Benediktus XVI, Bapa – Bapa ..., hlm. 29.
[7]
Dari bahasa Yunani logos yang berarti ucapan; pembicaraan;
pikiran; akal budi; kata; arti; studi tentang; pertimbangan tentang; ilmu
pengetahuan tentang; alasan pokok mengapa suatu hal apa adanya; prinsip-pinsip
dan metode-metode yang digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala dalam suatu
disiplin tertentu; aspek-aspek di dalam suatu benda yang membuat benda itu
dapat kita mengerti; dasar pemikiran tentang suatu hal. [Lihat Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 1996), hlm. 543.]
[8]
Jack Heraty, New Catholic …, hlm. 94.
[10]
Alexander Roberts – James
Donaldson (ed.), The Apostolic …,
hlm. 198
Tidak ada komentar:
Posting Komentar