Selasa, 04 September 2012

Ulasan Tentang Yesus Membangkitkan Anak Yairus dan Menyembuhkan Seorang Perempuan yang Sakit Pendarahan

 
Ulasan Tentang
Yesus Membangkitkan Anak Yairus dan Menyembuhkan Seorang Perempuan yang Sakit Pendarahan

I. Pendahuluan
            Membaca Kitab Suci dan merenungkannya merupakan suatu cara untuk memahami dan semakin menyelami Allah dan tindakan-tindakan-Nya dalam sejarah kehidupan manusia. Terkhusus pada Kitab Suci Perjanjian Baru yaitu Injil-Injil Sinoptik, pembaca akan menjumpai wujud karya Allah dalam pribadi Yesus Kristus yang berkarya di dunia demi keselamatan makhluk hidup. Salah satunya yang akan dibahas dalam paper ini adalah tentang Yesus membangkitkan Anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan. Dari judul bab yang akan dibahas ini telah jelas bahwa Yesus sungguh berkuasa atas kematian dengan membangkitkan anak Yairus. Bab ini tidak hanya menyoroti tentang penyembuhan anak Yairus namun juga dalam cerita didahului penyembuhan seorang yang sakit pendarahan. Di dalamnya termuat unsur-unsur teologis yang sangat mendalam. Maka dalam paper ini akan disajikan paralel Injil Sinoptik, perbandingan ketiga injil menggunakan hipotesa dua sumber, dan diberikan penutup sebagai refleksi dan kesimpulan.
           
II. Paralel Injil Sinoptik tentang Kisah Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan

Anak kepala rumah ibadat
Perempuan yang sakit pendarahan
Matius 9:18-26

Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan
Markus 5:21-43
Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan
Lukas 8:40-56
18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah dia dan berkata: ”Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup

19 Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya


20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakangNya dan menjamah jumbai jubah-Nya





21 Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya aku akan sembuh.”































22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku imanmu telah menyelamatkan Engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu













23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut.




24 berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak itu tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia


25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu




26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu.
21 Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, 22 datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus tersungkurlah ia di depan kaki-Nya 23 dan memohon sangat kepadaNya: “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letkkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.

24 Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya



25 Adalah disitu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. 27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu, ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya

28 Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya aku akan sembuh.”



29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya, dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya

30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling ditengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubahKu?” 31 Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?

32 Lalu Ia memandang sekelilingNya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. 33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya





34  Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”






35 ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusahkan guru?” 36 Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: “Jangan takut, percaya saja !”




37 Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus, dan Yohanes sudara Yakobus.
38 Mereka tiba di rumah kepala ibadat, dan disana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. 39 Sesudah ia masuk, Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak itu tidak mati, tetapi tidur. 40 Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka diusir-Nya semua orang itu, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu dan mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu.
 
41 Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: “Talita kum,” yang berarti: ”Hai anak Aku berkata kepadamu, bangunlah!” 42 Seketika itu juga anak itu bangkit, berdiri dan berjalan, sebab umurya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub.


43 Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.
40 Ketika Yesus kembali orang banyak menyambut Dia sebab mereka menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala  rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohonkepada-Nya supaya Yesus datang ke rumahnya,





42 karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak.

43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. 44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya,












dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.



45 Lalu kata Yesus : “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya,  berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.”




46 Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa yang keluar dari diri-Ku.” 47 Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh

48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”






49 Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru.” 50 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja dan anakmu akan selamat.”

 51 Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus, dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: “Jangan menangis, ia tidak mati, tetapi tidur.” 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka taHu bahwa anak itu telah mati



54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru kata-Nya: “Hai anak bangunlah!” 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan.
56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapa pun juga apa yang terjadi itu.


III. Perbandingan ayat-ayat dari Injil Sinoptik
a.      Panjang cerita dalam ke tiga Injil ini berbeda-beda.  Dalam Injil Mat. cerita ini dituliskan paling singkat, hanya ada 9 ayat saja. Kemudian disusul Luk. dengan 16 ayat. Cerita yang paling panjang terdapat pada Injil Mrk. dengan 22 ayat.[1] Panjang pendeknya cerita dalam ketiga Injil ini dilatarbelakangi oleh pemikiran masing-masing penulis. Jika dibanding-bandingkan, nampaknya cerita yang disajikan oleh Mat. jauh lebih dangkal dibandingkan dengan Mrk. dan Luk. Sebaliknya, Mrk. menceritakan detail-detail peristiwa, begitupn dalam Injil Luk, sehingga kita dapat mengetahui lebih banyak informasi mengenai peristiwa tersebut. Melalui perbandingan ini, jangan juga cepat menyepelekan singkatnya perikop dalam Injil Mat. Dapat dituliskan bahwa Mat adalah seorang penulis yang cerdas. Dalam penelitian dan tradisi yang sungguh diyakini, Injil Mrk. adalah Injil tertua. Injil Mrk. ditulis pada tahun 64-70 M. Injil Mat. ditulis kisaran tahun 70-80 dan Luk. berkisar pada tahun 80-85. Kecerdasan Mat. tampak pada penyajian cerita yang singkat, namun berisi. Mat. memberikan cerita dengan tidak mau terganggu oleh hal-hal sampingan. Mat. menyederhanakan cerita Mrk. untuk menguatkan tema iman kepercayaan.
b.     Dalam Mat. dan Luk., Yesus beserta murid-murid-Nya baru saja kembali dari wilayah orang-orang Gerasa.[2] Dalam perikop dari kedua Injil ini memang tidak ditampakkan  bahwa Yesus dan murid-murid-Nya baru kembali dari Gerasa, penjelasan itu tampak pada ayat sebelumnya. Ayat itu sangat jelas menerangkan karya Yesus dalam pengusiran roh-roh jahat dari orang Gerasa. Mrk. meletakkan cerita itu pada Injil Mrk. 5:1-20, dan dalam Luk. 8:26-39. Cerita tentang kepala rumah ibadat, perempuan yang sakit pendarahan dalam Mat. didahului dengan cerita hal berpuasa (Mat. 9:14-17). Cerita tentang pengusiran roh jahat digerasa pada Mat. diletakkan pada Mat. 8:28-34. Daerah yang disebut Mat. bukan Gerasa, melainkan Gadara.
c.      Bagian awal dalam Mat. 9:18 dituliskan: “Sewaktu Yesus berbicara kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu ia menyembah Dia dan berkata,...” Cerita awal dari Mat. ini berbeda dari Injil Mrk. dan Luk. Mrk. dan Luk. mengawali cerita dengan kedatangan Yesus yang baru saja kembali dari Gerasa.  Sekali lagi harus dilihat konteks dari ayat sebelumnya, yaitu hal berpuasa. Mrk. dan Luk. menempatkan ayat ini lebih awal (Mrk. 2:18-22; Luk. 5:33-39.
d.     Mrk. dan Luk. menceritakan lebih eksplisit lagi bahwa kepala rumah ibadat itu bernama Yairus. Yairus berasal dari nama Ibrani Yair (artinya: “Ia, yaitu Allah memberi terang,” Bil. 32:41; Hak. 10:3).[3] Yairus salah seorang pengurus Sinagoga. Ia bertanggungjawab atas segala penyelenggaraan ibadah dan bangunan sinagoga serta isinya.[4] Dari Lukas 8:41, tidak dapat disimpulkan bahwa Yairus adalah salah seorang pengikut Yesus. Barangkali Yairus tergolong kepada salah satu dari sekian banyak lawan Yesus, tetapi diceritakan bahwa ia sungguh-sungguh putus asa tentang keadaan anak gadisnya. Dapat digambarkan pastilah sangat sulit bagi dia untuk meminta pertolongan Yesus. Mat. tidak menjelaskan siapa kepala rumah ibadat itu, yang hendak ditekankan Mat. adalah bahwa orang itu sungguh-sungguh beriman.[5]
e.      Gambaran khas masing-masing penginjil tentang aktivitas Yairus.
Mat.[datang, menyembah, memohon (berwibawa)]; Mrk. [datang, tersungkur (memberi hormat), memohon (dengan sangat)]; Luk. (datang, tersungkur, memohon).Dapat diterangkan bahwa Mat. menyajikan cerita bahwa iman kepala rumah Ibadat itu nyata dalam tindakan dan kata-katanya, sama seperti majus dari timur.[6] Mrk. menyajikan cerita dengan lebih dramatis. Tampaknya Yairus dalam Mrk. meyakini Yesus bahwa Yesus sungguh-sungguh utusan Allah. Peristiwa dalam Luk. lebih singkat dibandingkan Mat., dan Mrk. Tampak bahwa Yairus dalam Luk. agak sedikit canggung meminta pertolongan dari Yesus.
f.      Muncul seorang perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun. Sakit pendarahan membuat dirinya terus-menerus menjadi seorang yang najis. Menurut hukum Yahudi dikatakan najis karena sakitnya menyebabkan keluarnya darah. Perempuan itu tidak bisa hidup secara normal dengan orang lain, karena orang yang menyentuhnya akan menjadi najis pula. Banyak ketidak jelasan cerita dalam Injil Mat. Ketidak jelasan itu tampak pada posisi awal perempuan itu, berjumpa dengan Yesus sewaktu berjalan atau berdiri? Sebagai penginjil yang cerdas, Mat. menitikberatkan pada hubungan manusia (menderita) dengan Yesus, tidakan Yesus terhadap manusia itu, kata-kata Yesus kepada manusia itu. Yesus adalah Injil. Yesus adalah keselamatan.[7] Mrk. secara detail menceritakan keadaan wanita itu bahwa ia semakin menderita meskipun telah berobat kesana kemari sehingga habislah hartanya dan semakin parah sakitnya. Perikop ini menunjukan pemberian diri Yesus secara total untuk menyembuhkan wanita yang sungguh-sungguh menderita itu. Luk. menyampaikan bahwa perempuan itu memandang Yesus sebagai pribadi yang keramat.
g.     Menyentuh/ Menjamah Jubah-Nya.
Ketiga Injil Sinoptik sama-sama menggunakan kata menjamah diartikan juga menyentuh. Ada proses komunikasi yang tidak lazim. Sebagai perempuan yang najis, ia begitu enggan untuk berbicara dan memohon langsung pada Yesus untuk menyembuhkannya. Pakaian Yesus sungguh identik dengan Yesus sendiri. Pakaian dapat menjadi lambang jati diri pemakainya. Tampak pada Injil Luk.: “Siapa yang menjamah aku ...” (8:4). Berkat imannya ia disembukan dari segala penyakitnya.
h.     Yesus tersentak dan bertanya
Mat. (tidak ada); Mrk. (Siapa yang menjamah Jubah-Ku?); Luk. (Siapa yang menjamah Aku?). Peristiwa ini menimbulkan kejengkelan dihati para murid-murid-Nya. Perempuan yang sakit pendarahan ini telah menjadi penghambat bagi keselamatan puteri Yairus.[8] Nada kejengkelan itu Tampak pada jawaban Petrus. Mrk. dan Luk. menggambarkan Yesus yang gaib. Gaib karena Yesus dapat begitu saja mengetahui orang yang menyentuh jubah-Nya. Mat. lebih menyoroti perkataan Yesus setelah peristiwa ini. Mat. menyajikan inti dari cerita ini.
i.       Saat Yesus tiba di rumah Yairus, banyak orang sudah menangis dan meratapi kematian anak Yairus. Penuh kuasa Yesus berkata bahwa anak itu tidak mati, ia hanya tidur. Yesus sebenarnya tahu bahwa anak itu mati, namun melalui peristiwa itu nyatalah kemuliaan Allah. Kematian tidak menjadi penghalang. Pengarang Injil Sinoptik sepakat menyajikan kisah ini dalam Injilnya. Kuasa Allah nyata dalam peristiwa ini.
j.       Ayat terakhir masing-masing Injil
    1. Matius:  (Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu)
    2. Markus: (Jangan seorang pun mengetahui hal itu)
    3. Lukas  : (Melarang memberitahukan kepada siapapun)
Sampai disini tidak terlalu penting bagi Mat. untuk menjaga rahasia ini. Bagi Mat, Yesus    pribadi yang berkuasa atas kematian sekalipun. Mrk. dan Luk. menuliskan hal ini demi terjaganya rahasia kerajaan Allah. Dalam ayat ini tampak bahwa belum saatnya memberitahukan tentang kuasa Yesus atas kebangkitan. Apalagi melihat kondisi orang-orang yang menertawakan-Nya tadi. Orang-orang itu tidak pantas memberitakan karya keselamatan, karena belum mempunyai penghayatan iman yang mendalam.

IV. Penutup
            Yesus hadir dalam ketiga Injil sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh para penginjil. Mat. Menitik beratkan pada kontak langsung ketiga tokoh sentral pada kisah itu. Mrk. Menghantar pembaca untuk merenungkan satu persatu dari setiap peristiwa untuk menghantar sampai pada kemahakuasaan Allah dalam penderitaan dan kematian. Setiap bagian ini tersembunyi karya Allah dan terungkap pada bagian akhir perikop Injil Mrk. Luk. menghantar kita untuk meyakini kehadiran Kerajaan Surga yang semakin mendekat, hari kebangkitan orang mati telah nyata. Melalui sikap hidup kita, kita dituntut untuk percaya dan punya iman yang kuat. Masih banyak hal yang sesungguhnya bisa diungkapkan dari paper ini, mengingat begitu banyak ayat dalam ketiga perikop dalam tiap-tiap Injil. Melalui perbandingan ini, terbukalah cakrawala iman dan pemikiran kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Dilain pihak, kita sebagai manusia harus mempunyai keyakinan yang teguh atas karya Allah dalam kehidupan kita.



DAFTAR PUSTAKA

Bock, Darrell L. Luke 1:1-9:50- Baker Exegetical Commentary on the New Testament. Michigan: Baker Books, 1994.

Boland, B. J. dan Naipospos, P. S. Tafsir Alkitab Injil Lukas. Jakarta: Gunung Mulia, 1996.

Browning, W. R. F.  Kamus Alkitab (A Dictionary of the bible, 1996). Diterjemahkan oleh Liem Khiem Yang – Bambang Subandrijo. Jakarta: Gunung Mulia, 2008. 

Harington, Daniel J. “Matius”, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (Collegeville Bible Comentary, 1989). Diterjemahkan oleh A. S. Hadiwiyata. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Leks, Stefan. Yesus Kristus Menurut Keempat Injil.  Jilid 4. Yogyakarta – Flores: Kanisius –Ende, 1984.



          [1] Stefen Leks, Yesus Kristus Menurut Keempat Injil – Jilid 4 (Yogyakarta – Flores: Kanisius- Ende, 1984), hlm. 35. 
          [2] Gerasa salah satu kota Dekapolis yang mengesankan. Pada zaman Perjanjian Baru dibangun kembali oleh orang-orang Romawi, dilengkapi dengan teater dan tempat pertemuan umum. Kota ini terletak diantara Laut Mati dan Tasik Galilea. Pada 63 sM, kota ini digabungkan ke dalam provinsi Siria. [Lihat W. R. F. Browning,  Kamus Alkitab (judul asli: A Dictionary of the bible), diterjemahkan oleh Liem Khiem Yang -Bambang Subandrijo (Jakarta: Gunung Mulia, 2008), hlm. 117.] 
          [3] B. J. Boland dan P. S. Naipospos, Tafsir Alkitab Injil Lukas (Jakarta: Gunung Mulia, 1996), hlm. 206.
          [4] Daniel J. Harington, “Matius”, dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Baru (judul asli: The  Collegeville Bible Comentary), diterjemahkan oleh A. S. Hadiwiyata (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 48.
          [5] Stefen Leks, Yesus Kristus Menurut Keempat Injil..., hlm. 37.
           [6] Stefen Leks, Yesus Kristus Menurut Keempat Injil..., hlm. 37
          [7] Stefen Leks, Yesus Kristus Menurut Keempat Injil..., hlm. 38
          [8] Darrell L. Bock, Luke 1:1-9:50- Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Michigan: Baker Books, 1994), hlm. 793.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar